Try To Understand LGBT Before Hating
I usually taking easy with controversy, but about LGBT I still have to rethink. I'm not pro and not kontra , but I respect them. I’m a person who is easy to be friendly about issues that come from minority groups. Melihat ramainya topik yang kembali muncul memenuhi time line twitterku diangkat oleh Gojek karena dukungannya kepada LGBT yang di show off, hal ini menggelitikku untuk menyumbang pikiran dan pendapat. Untuk masalah yang satu ini tentu kita sepakat. Tidak hanya Islam. Dalam Kristenpun, semua agama pun menolak hubungan sejenis. Tentu saja aku tidak akan mendebatkan dalam ranah agama atau ranah hukum yang dulu sempat ramai diperbincangkan.
Who will deny the truth of religion? I did agree with people who blaspheme LGBT that religion is the answer to everything. Tapi kalau itu sudah menjawab atas segala pertanyaan alam semesta. Mengapa kita harus memaksakan kebenaran agama dengan aroma kebencian versi kita? Bahkan didalam agama islam sendiri islam mentolerir kaum LGBT, walau hanya sebatas pada sikap, perilaku dan pemikiran mereka dalam kehidupan. Kita pun masih belum paham batasan agama mengenai LGBT. Anyway tidak sesimpel itu, kita menaruh stigma dosa di kening mereka. Membawa doktrin agama won’t solve the problem.
Masalah ini menjadi pelik ketika sekelompok orang beratas nama Tuhan showing off their venom untuk menggerus mereka yang memiliki orientasi berbeda. Agama menjadi polisi, dengan pecut neraka di tangan. Memperdebatkan masalah ini seolah mereka sebagai hetero seksual yang kurang memiliki respect terhadap kaum LGBT menjadi manusia yang paling benar dan paling agung.
Even we don't know the secret of God, mengapa diciptakan manusia yang selain berbeda etnis, agama, juga orientasi seksual yang berbeda, kalau pada akhirnya juga menuju sebuah jalan yang sama padaNya. Mempersaingkan religi, memaksakan kesamaan, menarik garis besar, menebar terror, kebencian mungkin menjadi suplemen sebuah kebenaran. Seharusnya perbedaan itu indah. Nyatanya semboyan kebhinekaan yang terpatri dalam pancasila tidak diimplementasikan kedalam kehidupan.
Keberbedaan membuat manusia tidak nyaman. Ya dunia akan jauh lebih nyaman jika semuanya seragam, bukan? Tetapi dengan keseragaman, tidak akan ada yang dapat didiskusikan, tidak akan membuat kita berpikir lebih kritis. Tidak ada keragaman perspektif yang sehat. Tidak akan ada dinamika di muka bumi.
Mungkin banyak yang belum pernah mendengar kata-kata Henry Manampiring yang satu ini.
Saya pernah membaca, “Privilege is invisible to whose who have it”. Hak istimewa (privilege) tidak terlihat dan dirasakan oleh orang yang memilikinya. Menjadi orang kulit di putih di AS tidak merasakan privilege berkulit putih, karena mereka tidak pernah menjadi kulit hitam atau kuning yang harus menghadapi rasisme. Menjadi pria di dunia korporat mungkin tidak merasakan privilege berpenis, karena mereka tidak pernah menjadi perempuan yang harus menghadapi diskriminasi gender. Menjadi Sarjana mungkin tidak merasakan privilege akses pendidikan tinggi, karena tidak pernah merasakan menjadi mereka yang untuk menyelesaikan SD saja susah sekali.
Dari perkataan Henry Manampiring yang bisa kutangkap adalah “Try to understand before hating”
Coba pahami menjadi mereka yang minoritas, mereka yang selalu menyelimuti identitasnya karena takut dihujat. Living a life of a lie had been a constant struggle and believe me it’s not easy.
Jangan bilang kalian takut berteman dengan orang yang terindikasi LGBT karena takut tertular. Think with logic, ask yourself, apakah kamu akan tertular jika bergaul dengan mereka? Jika memang pergaulan menyebabkan seseorang berubah orientasi seksual dan identitas gendernya, bukankah mereka yang homoseksual, yang minoritas itu yang harusnya TAKUT tertular oleh kelompok heteroseksual yang jumlahnya mayoritas ini?
Keberadaan orang yang merupakan bagian dari LGBT bukanlah berarti menjadikan mereka harus dibenci, dimusuhi, diasingkan atau bahkan dianiaya. Mereka hendaknya tetap dihargai sesuai kodratnya sebagai makhluk dan bagian dari dinamika kehidupan manusia di muka Bumi bukan sebagai sampah atau sesuatu yang menjijikkan.
Tidak semua LGBT merupakan kaum loyalis yang memegang teguh ideologinya sampai akhir kehidupannya. Sebagian diantarnya justru dapat disembuhkan dan kembali hidup normal, bahkan diantaranya menikah serta memiliki keturunan. Ini semua butuh proses pendidikan dan perlakuan yang sesuai dengan kodratnya, penerimaan dan keikhlasan diri terhadap apa yang dimiliki, serta keyakinan akan keadilan anugrah yang telah diberikan Tuhan.
Mungkin sampai disini aku masih bisa dengan lancar berpendapat, tapi yang menjadi problematika para hetero seksual yang mengaku respect terhadap LGBT adalah saat munculnya pertanyaan “Bagaimana kalau anakmu termasuk salah satu golongan itu sehingga tidak bisa meneruskan keturunan?”
Aku sempat membaca jawaban-jawaban dari pertanyaan yang satu ini di twitter tapi seriously sebenarnya tidak yang bisa menjawab. Kupikir tak ada dari mereka bahkan aku sendiri yang menginginkan ini terjadi. Walaupun ada yang memberi pendapat bahwa mereka akan tetap mendukung keputusan anaknya. Kalau memang semudah itu menerima keputusan anak yang sedikit berbelok, lalu kenapa masih banyak forum yang memfasilitasi parents guide seperti di website melela dan masih banyak yang menggalakan support terhadap LGBT? Maka dari itu diawal aku berkata bahwa topik ini benar benar ranah abu-abu, banyak sikap dualisme di sini, ini bukan masalah meneruskan keturunan atau apa, tapi ini masalah keikhlasan. Kita sebagai orang timur yang hidup dibawah naungan paradigma adat dan agama, tentu hal tesebut bukan hal yang mudah. Kasarannya I don't have problems with LGBT as long as it's not my family. Tak masalah. Sekali lagi ini masalah paradigma.
Mungkin untuk menjawab pertanyaan di atas coba kita ganti pertanyaannya menjadi “Bagaimana kalau kamu adalah anak yang dibesarkan dengan baik secara financial and mental dari pernikahan dua orang yang merupakan LGBT?”
Apakah kamu masih memiliki jawaban yang sama? Apakah kamu masih membenci keluargamu?
Pointnya bukan pada orientasi seksual tapi seberapa besar dukungan materil, moril,dll yang diterima.
Jadi jawabanku untuk pertanyaan yang pertama adalah aku masih akan menentang mereka tell them to rethink the path they will take apakah keputusan itu sudah bulat dan mencari cara untuk mereka kembali pada orientasi seksual yang normal, tapi kalau memang tidak bisa ya as long as they are resistant to being judged go what ever they want. Aku lebih malu punya anak yang hetero seksual tapi koruptor with bad attitude dan pola pikir rendah daripada LGBT yang humble with good attitude dengan pola pikir tinggi. Karena attitude dan pola pikir itu sebagian besar dibentuk oleh orang tua/ keluarga sedangkan orientasi sexual itu hal naluriah dari diri sendiri. Jadi apakah orang tuamu pernah mengajarkanmu untuk menyukai sesama jenis atau melakukan transgender?
Comments
Post a Comment